Konfigurasi Rangkaian Transistor Serta Penjelasannya Lengkap

Sudah tahukah bagaimana jenis-jenis konfigurasi rangkaian transistor? Seperti sudah diketahui bahwa keberadaan dari komponen satu ini ternyata mempunyai peran cukup penting. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena kehadirannya berperan sebagai penghubung.

Bagi Anda yang tidak bekerja di bidang teknisi, tentunya kehadiran dari istilah satu ini masih asing di telinga bukan? Padahal jika dilihat lebih jauh, maka kehadirannya mempunyai peran yang cukup penting untuk sebuah proyek rangkaian elektronika.

Agar dapat bekerja dengan baik, maka keberadaan dari transistor inilah ternyata juga hadir dengan beberapa pilihan rangkaian. Agar Anda semakin paham, maka sebaiknya dapat menyimak penjelasannya dibawah ini.

Konfigurasi Rangkaian Transistor Serta Penjelasannya Lengkap

Pengertian dari Transistor

Sebelum Anda mengetahui bagaimana rangkaian transistor, maka perlu memahami lebih lanjut mengenai pengertiannya dahulu. Dimana transistor sendiri merupakan komponen semikonduktor dimana mempunyai berbagai macam fungsi seperti pengendali, osilator, penguat, penyearah hingga modulator.

Ini adalah salah satu komponen yang paling banyak ditemukan di dalam rangkaian elektronika. Bisa dibilang bahwa hampir setiap perangkat elektronik ternyata juga memanfaatkan keberadaan komponen ini untuk berbagai kebutuhan didalam rangkaiannya.

Adapun perangkat-perangkat elektronik yang dimaksud tersebut seperti televisi, audio player, ponsel, konsol game, audio amplifier, video player dan masih banyak lagi. Komponennya pertama kali ditemukan oleh fisikawan asal Amerika Serikat pada 1947 silam yakni tipe transistor jenis bipolar.

Ketiga orang tersebut diantaranya adalah Walter Brattain, William Shockley serta John Bardeen. Berkat adanya penemuan itulah, perangkat-perangkat elektronika yang berukuran kecil akhirnya dapat dirancang menjadi lebih kecil sekaligus portable.

Bahkan ketiga fisikawan itulah juga berhasil memperoleh nobel fisika pada tahun 1956 silam atas penemuan benda-benda bermanfaat tersebut. Tetapi sebelum ketiga fisikawan asal Amerika menemukan transistor bipolar, maka fisikawan asal Jerman ternyata sudah mematenkan transistor jenis filed effect di Kanada pada 1925 silam.

Baca Juga:  Transistor Final yang Bagus untuk Bass agar Maksimal

Tetapi memang fisikawan asal Jerman tersebut tidak pernah memberitahukan penemuannya tersebut secara publik baik dalam tulisan ataupun perangkat prototypenya.

Konfigurasi Rangkaian Transistor

Sudah mengetahui bagaimana pengertian dari transistor ini bukan? seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa komponen inilah bisa bekerja dengan maksimal dengan menggunakan rangkaian. Terdapat jenis konfigurasi rangkaian transistor yang bisa digunakan.

Hal tersebut juga dimaksudkan agar komponen tersebut mampu memenuhi kebutuhan jalur input sekaligus outputnya. Nah berikut ini sejumlah konfigurasi dari rangkaian transistor yang sering digunakan.

Common Base

Pertama adalah common basis ini dimana merupakan rangkaian elektronik yang mempunyai kaki yang berbasis pada transistor sekaligus saling terhubung nantinya. Input nantinya akan dimasukkan melalui terminal basis serta emanator, output berasal dari terminal kolektor dan basis.

Arus input dimana mengalir ke bagian terminal emitor biasanya harus lebih besar dibandingkan dengan arus basis dan kolektor dalam menjalankan transistor. Besar penguatan arus didalam konfigurasi ini biasanya sama atau kurang dari satu.

Penggunaan dari rangkaian common base inilah biasanya diterapkan pada rangkaian penguat sinyal yang cukup kecil. Dimana pada rangkaian elektronika dengan frekuensinya diatas 10MHz sekaligus akan mengutamakan penguatan tegangannya.

Common Collector

Berikutnya terdapat konfigurasi common collector satu ini dimana memanfaatkan terminal kolektor sebagai jalur untuk sinyal output dan input. Tipe konfigurasi inilah juga dikenal dengan sebutan emitter follower karena tegangan emitor akan mengikuti pada tegangan basis.

Selain itu, penggunaannya juga sering diterapkan sebagai penguat di tingkat buffer serta pada sirkuit pencocokan impedansi. Hal tersebut karena memiliki impedansi dengan masukkan cukup tinggi.

Nantinya sinyal input akan didistribusikan antara terminal basis kolektor, sedangkan outputnya akan diambil dari terminal emitor-kolektor. Untuk sinyal penguatnya dapat ditemukan pada kaki basis.

Baca Juga:  Proses Transmisi dan Distribusi Tenaga Listrik A-Z

Secara umum, nilai tegangan antar input dan output pada konfigurasi inilah hampir sama. Rangkaian tersebut mempunyai sifat fasa sinyal diantara input sekaligus output yang terbalik.

Kehadiran dari common collector inilah juga biasanya dikenal sebagai rangkaian penguat non inverting. Sebab penguatan tegangan didalamnya kurang dari satu, tetapi penguatan arusnya besar karena resistor beban didalamnya menerima arus yang berasal dari kolektor serta basis.

Common Emitter

Tipe terakhir adalah konfigurasi common emitter satu ini dimana akan memanfaatkan terminal emitor sebagai jalur ground untuk input sekaligus outputnya. Biasanya kehadiran rangkaian inilah termasuk ke dalam rangkaian penguat inverting atau pembalik fassa.

Konfigurasi inilah akan menghadirkan kaki emitor yang terdapat pada transistor akan saling terhubung. Didalam hal ini, sinyal output penguat dapat ditemukan pada kolektor, sedangkan input menguatnya pada kaki basis.

Tipe konfigurasi inilah ternyata juga paling banyak digunakan dibandingkan dengan sebelumnya. Hal tersebut karena common emitter mempunyai kemampuan untuk menguatkan frekuensi sekaligus adanya sinyal tinggi dibandingkan dengan common collector dan common basis.

Jenis-Jenis Transistor yang Sering Digunakan

Jenis-Jenis Transistor Yang Sering Digunakan

Sudah mengetahui jenis rangkaian konfigurasinya bukan? berikutnya Anda juga perlu memahami jenis-jenis transitor yang sering digunakan. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena perbedaan jenis ternyata juga akan menghadirkan proses pengoperasian berbeda nantinya.

Agar Anda semakin jelas, maka dapat menyimak beberapa jenis dari transistor yang sering digunakan dibawah ini:

Bipolar

Pertama adalah transitor tipe bipolar dimana menjadi komponen dengan struktur sekaligus prinsip kerja yang membutuhkan perpindahan muatan pembawanya. Yakni electron di kutup negative akan berfungsi untuk mengisi kekurangan electron atau hole di bagian kutub positif.

Nantinya didalam tipe inilah juga akan terdiri dari dua kutup yakni positif sekaligus negative dengan tujuan mengalirkan elektror. Jenis ini biasanya membutuhkan input berupa arus listrik baik tipe bolak-balik ataupun searah.

Baca Juga:  Pengertian Light Dependent Resistor (LDR), Karakteristik, Fungsi, Cara kerja, dan Cara Pengukurannya

Pada awalnya electron dimana sudah memperoleh aliran listrik pada kutub negatif maka akan dibawah menuju ke kutub positif agar mengisi kekurangannya. Tipe bipolar inilah juga mempunyai sejumlah jenis diantaranya adalah:

  • Transistor PN menggunakan arus listrik kecil dengan tegangan negative
  • Transitor NPN menggunakan arus listrik kecil dengan tegangan positif.

Field Effect Transistor

Tipe berikutnya adalah transistor filed effect atau efek medan yang memanfaatkan listrik untuk mengendalikan konduktifitasnya tersebut. Yang dimaksud dengan medan listrik disini adalah tegangan listrik dimana diberikan pada terminal gate untuk mengendalikan aliran arus serta tegangan drain.

Kehadirannya juga sering disebut dengan transistor unipolar, sebab proses pengoperasiannya hanya tergantung di salah satu muatan pembawa saja. Beberapa jenis field effect diantaranya MOSFET, JFET, UJT.

Untuk MOSFET merupakan transistor efek medan dimana memanfaatkan isolator (seperti silicon dioksida atau SiO2) diantara gerbang dan kanalnya. Mosfet terdiri dari dua jenis konfigurasi yakni depletion dan enchancement.

Sedangkan JFET adalah jenis yang menggunakan persimpangan p-n bias terbalik yang nantinya berfungsi sebagai isolator antara gerbang dan kanal. Terakhir adalah UJT yakni digolongkan sebagai Field Effect Transistor karena pengoperasiannya mengandalkan medan listrik dan tegangan sebagai pengendali.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran dari komponen inilah ternyata mempunyai peran yang sangat penting. Agar dapat bekerja dengan baik, maka pahami konfigurasi rangkaian transitor dengan baik diatas.

Bagikan Postingan:

Leave a Comment