Rumus Purposive Sampling Secara Lengkap

Dalam penelitian yang dilakukan berbagai pihak, ada berbagai cara dilakukan untuk mengumpulkan data dan sampel. Salah satunya adalah purposive sampling, yang memiliki rumus purposive sampling tertentu sehingga memudahkan mendapatkan hasil data yang diinginkan.

Salah satu fungsi utama dari penggunaan metode purposive sampling adalah untuk bisa menjawab apa yang dipertanyakan dalam sebuah riset. Apakah Anda mau lebih paham soal metode ini? yuk simak penjelasan lengkapnya disini.

Apa Itu Purposive Sampling

rumus purposive sampling

Kalau diambil dari pengertian purposive sampling menurut para ahli salah satunya Sugiyono, maka arti dari metode ini adalah cara untuk menentukan sampel yang tepat menggunakan pertimbangan tertentu.

Jika dijabarkan lebih panjang, metode ini akan mengumpulkan sampel berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian. Misalnya, penelitian tentang produk bisnis yang disukai oleh konsumen. Maka sampel yang dipilih adalah tentang apa yang disukai konsumen dan produk apa yang populer untuk kategori tertentu.

Penggunaan metode ini, akan sangat tepat ketika melakukan sebuah penelitian kualitatif. Dimana hasil penelitian berupa kesimpulan dan pertimbangan tertentu tanpa melibatkan rumus berupa angka-angka yang rumit.

Rumus Purposive Sampling

Untuk menentukan berapa jumlah sampel yang perlu dipakai dalam sebuah penelitian menggunakan metode purposive sampling, maka ada rumus purposive sampling yang dapat digunakan, yaitu:

n = N/1+Ne2

n = jumlah minimal dari sampel

N = jumlah total populasi

E = margin of error dengan nilai tetap biasanya 0,05

Syarat dan Langkah Penggunaan Purposive Sampling

Sebelum mulai menggunakan metode ini, ada syarat yang perlu dipenuhi oleh seorang peneliti, sehingga kemudian bisa melakukan langkah-langkah yang tepat dalam penerapan metode tersebut.

Syarat Metode Purposive Sampling

  • Sudah ada kriteria yang ditetapkan untuk sampel yang akan diambil dalam sebuah penelitian. Kriteria ini akan berhubungan dengan tujuan dari penelitian itu sendiri
  • Semua sampel yang digunakan wajib mengacu pada kriteria yang sudah ada, tidak boleh asal karena akan menentukan hasil sebuah penelitian
Baca Juga:  29 Inch Berapa Cm? Ini Dia Perhitungan yang Benar

Langkah Penggunaan Metode Purposive Sampling

  • Anda harus menentukan lebih dahulu tujuan dari penelitian, oleh karena itu sangat penting melakukan riset awal sebagai acuan dan pertimbangan dalam menentukan tujuan penelitian tersebut
  • Lakukan pembuatan daftar kriteria sampel yang akan dijadikan acuan dalam mencari sampel yang tepat
  • Pastikan jumlah populasi atau ruang lingkup penelitian, untuk mempermudah menentukan jumlah sampel berdasarkan rumus purposive sampling yang dipakai.
  • Memastikan berapa jumlah sampel dipakai, sebagai subjek utama penelitian

6 Metode yang Digunakan dalam Purposive Sampling

Bukan hanya satu, namun ada enam metode yang bisa dipilih saat akan mencari sampel purposive sampling. Apa saja metodenya?

Typical Case

Sampel yang digunakan adalah orang atau kelompok dengan perilaku sama atau setipe satu sama lain. bisa juga memiliki pengalaman yang sama pada hal tertentu dan karakteristik sama. Sampel ini diambil berdasarkan sebuah fenomena normal yang biasa terjadi.

Homogeneous

Selanjutnya adalah metode homogeneous yang tujuannya adalah meminimalisir variasi dalam sampe dan membuat analisis menjadi lebih sederhana. Jadi, di dalam penerapannya peneliti akan fokus pada sebuah sub kelompok yang akan diteliti mendalam dimana kelompok tersebut memiliki jenis karakter sama.

Maximum Variation

Adalah metode yang juga sering disebut heterogeneous sampling. Pada metode ini, peneliti akan memilih sampel berdasarkan karakteristik beragam, bukan hanya satu karakteristik saja. gunanya adalah untuk memastikan variabilitas maksimum yang bisa didapat pada data hasil penelitian.

Expert

Merupakan sebuah metode yang akan membutuhkan ahli tertentu sebagai sampel, untuk menunjang penelitian yang dilakukan. Biasanya dipakai ketika dalam penelitian yang sudah dilakukan, ternyata ada kekurangan informasi dan bukti dari observasi yang membutuhkan tambahan informasi dari sampel kompeten.

Baca Juga:  Trafo Step Up: Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, Rumus dan Cirinya

Critical Case

Metode ini biasa dipakai untuk tahap awal penelitian, dimana sampel yang diambil hanya sedikit dari total jumlah sampel kasus yang ada. Nantinya, jika diperlukan penelitian lanjutkan maka peneliti akan melakukan pengambilan sampel lanjutan.

Extreme Case

Terakhir adalah sebuah metode dengan mengambil sampel dari kasus tertentu yang jarang terjadi. Hal ini akan membantu pengembangan penelitian dan pemahaman tentang objek penelitian. Biasanya untuk metode ini disebut juga dengan istilah deviant case sampling.

Contoh Purposive Sampling

Sangat banyak contoh dari penerapan metode purposive sampling yang berbeda dengan purposive random sampling. Bahkan bisa saja Anda juga sudah pernah menggunakannya dalam melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan riset dan penelitian kualitatif.

  • Penelitian tentang pengaruh kualitas pelayanan pada kepuasan nasabah bank Z yang ada di kota A, yang memiliki tiga produk perbankan utama, yaitu tabungan, kredit dan deposito tahun 2020. Dimana berdasarkan data yang didapatkan, di tahun 2020 nasabah totalnya berjumlah 750 orang.

Terdiri dari 300 nasabah produk tabungan biasa, 400 nasabah untuk produk kredit, dan 75 orang nasabah produk deposito

Penelitian akan melibatkan nasabah sebanyak 100 orang berdasarkan penggunaan rumus purposive sampling. Terdiri dari 25 nasabah pemilik rekening tabungan, 70 orang pemilik kredit, dan sisanya 5 orang nasabah produk deposito.

  • Penelitian tentang kinerja karyawan yang ada pada sebuah perusahaan tekstil yang sudah berjalan 4 tahun. Saat ini jumlah karyawannya adalah 150 orang. Dengan begitu, didapatkan kriteria yaitu sampel harus karyawan yang bekerja sejak perusahaan berdiri yaitu 4 tahun.

Ternyata berdasarkan kriteria tersebut, terdapat 78 orang yang bisa dijadikan sampel penelitian kinerja karyawan

  • Sejauh mana proses belajar dengan kurikulum merdeka memberikan dampak positif pada siswa di SD B. Data jumlah siswa sejak kurikulum diterapkan berjumlah 1000 orang, yang terdiri dari siswa kelas 1-6. Sampel yang harus diambil adalah dari setiap kelas sesuai rumus purposive random sampling supaya hasil penelitian lebih akurat dan bisa mendapatkan kesimpulan terbaik.
Baca Juga:  Pengertian Tabel Distribusi Frekuensi, Bagian dan Manfaatnya, Sudah Tahu?

Plus Minus Purposive Sampling

Setiap metode penelitian, pastinya memiliki plus minus saat penerapannya. Ada yang mengatakannya mudah, namun ada juga yang sulit menerapkannya karena minim pemahaman atau salah dalam mencari sampel.

Nilai Plus Purposive Sampling

  • Teknik ini lebih efisien ketimbang teknik lain karena pencarian sampel yang dilakukan cukup mudah jika kriterianya sudah jelas
  • Tujuan penelitian bisa dicapai dengan mudah karena sampel yang tepat dapat dipilih dari kelompok sampel yang ada
  • Merupakan metode paling tepat untuk penggunaan data primer, dimana peneliti yang datanya terbatas akan sangat terbantu
  • Peneliti pada umumnya mudah menggunakan metode ini, asalkan sudah paham langkah penggunaannya

Nilai Minus Purposive Sampling

  • Pada beberapa kasus, jumlah sampel yang dipakai ternyata tidak bisa menjadi representasi dari total populasi penelitian
  • Bukan teknik yang populer dan masih kalah dari teknik random sampling
  • Sangat mungkin terjadi kesalahan penelitian karena penilaian dari peneliti yang tidak tepat
  • Tidak bisa disandingkan dengan kesimpulan yang menggunakan data statistik

Memahami tentang rumus purposive sampling sangat penting, terutama bagi Anda yang bergelut di dunia riset. Hanya saja harus lebih teliti saat menentukan kapan perlu memakai metode ini dan metode lain, supaya hasil penelitian lebih tepat dan tidak mengalami kesalahan yang berdampak pada hasil penelitian.

Bagikan Postingan:

Leave a Comment